Sedekah Doa

sedekah doa

“Jadi, itulah kondisi di Gaza, Palestina, dan Suriah, adik-adik! Juga saudara-saudara kita di Rohingya. Banyak anak-anak seperti kalian yang butuh bantuan. Nah, kalian mau menyumbang, kan?” kata Kak Hilman.

“Siaaaap, insyaallah…!” jawab anakanak hampir serempak.

“Bantuan bisa dititipkan ke wali kelas masing-masing, atau dimasukkan langsung ke kotak yang kami sediakan,” lanjut kakak Hilma.

Ya, hari ini ada kegiatan Pekan Amal untuk bumi Syam. Murid-murid SD Permata Hati diajak menonton film tentang pengungsi di Suriah dan Palestina, sambil mendengarkan penjelasan dari Kak Hilman. Kak Hilman adalah relawan yang pernah mengunjungi Suriah untuk mengantarkan bantuan dari para donatur Indonesia.

Semua murid terlihat antusias dan bersemangat. Mereka seolah bisa merasakan penderitaan anakanak di pengungsian. Mereka pun berse- mangat ketika diminta menyumbang.

Tapi, ada seorang anak yang terlihat murung. Dia adalah Koko, murid kelas enam.

“Kenapa kamu murung, Ko?” tanya Gian, teman sekelasnya.

“Aku mungkin tidak bisa menyumbang, Gi. Aku tidak memiliki uang,” jawab Koko.

“Ooo, itu alasannya. Jangan sedih. Ini nggak wajib, kan? Tidak menyumbang juga tak apa-apa,” kata Gian, menghibur.

“Justru aku sedih, karena tidak bisa meringankan penderitaan mereka, saudara-saudara kita yang menderita itu,” kata Koko.

“Ya sudah, sabar aja! Insyaallah, kamu sudah berpahala, karena sudah menganggap mereka sebagai saudara seiman,” kata Gian lagi.

Koko sangat ingin menyumbang. Tapi, dia tidak memiliki banyak uang. Uang tabungannya baru saja digunakan membeli buku. Koko pun tidak mau meminta uang lebih kepada

ayahnya. Paling, Koko hanya bisa menyisihkan uang sakunya yang cuma dua ribu rupiah, itu pun belum tentu diberi tiap hari.

“Mulai besok, aku akan masukkan seluruh uang sakuku ke dalam kotak sumbangan,” kata Koko pada Gian.

“Semuanya? Kamu nggak bisa jajan, dong!” tanya Gian.

“Nggak apa-apa. Dan, sepertinya aku punya cara lain untuk menyumbang,” kata Koko, sambil tersenyum.

“Cara lain? Apaan?” tanya Gian, penasaran.

“Ada, deh!” kata Koko sambit tersenyum.

Ya, Koko memang punya cara lain untuk menyumbang. Dia berniat, mulai nanti malam, dia akan shalat malam untuk mendoakan anak-anak di Suriah, Palestina, Gaza, dan di tempat lainnya.

“Semoga Allah memudahkan niatku!” doa Koko dalam hati.

***

Krrinng…. Jam alarm berdering tepat jam 4.00 pagi. Koko terbangun. Sejenak dia duduk di tepi tempat tidurnya. Niat untuk shalat malam dan mendoakan anak-anak Suriah membuatnya lekas bangkit, lalu menuju kamar mandi dan berwudhu.

Dengan semampunya, Koko shalat malam sebelas rakaat. Lalu duduk bersimpuh dan berdoa…

“Ya Allah, tolonglah saudarasaudara kami yang lemah dan terzhalimi di Suriah, di Palestina, di Gaza, di Rohingya, dan mana pun mereka berada. Ya Allah, bantulah para mujahidin yang berjuang di jalan-Mu. Hanya Engkaulah yang Maha Memberi Pertolongan.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, satukanlah hati kami, kokohkanlah persaudaraan kami. Ya Allah, terimalah taubat kami dan kabulkankan doa-doa kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Aamiin…!”

 

BACA JUGA: Ketika Warung Ibu Pindah