Selamat Tinggal Guruku – Kisah Berhikmah

Selamat Tinggal Guruku - Kisah Berhikmah

Ujian Nasional telah usai. Kini tibalah saatnya meninggalkan bangku Sekolah Dasar bagi murid-murid kelas enam SD Al-Falah. Hari itu menjadi hari bersejarah bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

Aisyah masih termenung di depan meja belajarnya. Ia tengah melihat buku-buku catatannya yang masih tersampul rapi. Dibukanya lembar perlembar isi catatan yang dulu ia tulis.

“Dek Aisyah sedang apa?” tanya kak Nafi yang tiba-tiba muncul di belakang Aisyah.

“Eh enggak kak, Ais lagi ngerapiin buku,” kata Ais. Kak Nafi tersenyum, kemudian mendekati adiknya dan membantu merapikan buku-bukunya.

“Kak, panggil Ais. “Apa dek?” Jawab kak Nafi.

“Aku kangen sama bu Nur ,” Kata Aisyah tanpa melihat ke arah kak Nafi.

“Hah, bu Nur siapa, tetangga kita itu?” Tanya kak Nafi bercanda.

“Bukan kak! Bu Nur wali  kelas Ais di sekolah,” Kata Ais lagi. Kak Nafi melihat ke arah adiknya sambil mengetuk tumpukan buku di meja belajar.

“Loh kenapa kangen?” Tanya kak Nafi.

“Besok Ais sudah harus berpisah dengan bu guru kak. Padahal bu Nur orangnya baik, kalo ada murid yang kesulitan pasti bu Nur sendiri yang datang membantu mengerjakan tugas kita. “

“Mmm…,” Kak Nafi terlihat menyimak. Alisnya naik turun.

“Pernah buku Ais ketinggalan di laci meja Ais. Ais lupa naruh. Padahal itu buku sejarah kebudayaan islam dan ada tugas yang harus dikerjakan. Ais bingung. Ais udah cari di setiap sudut kamar enggak ada, Umi malah ikut bantu cari. Eee… Tiba-tiba bu Nur datang coba kak. Beliau mengantar buku sejarah Ais. Selamat deh Ais. Bu Nur baik banget nggak ada orang sebaik ibu guruku itu.” Kata Ais bersemangat.

“Aku nggak mau berpisah dengan bu Nur kak,” Kata Ais lagi, matanya berkaca-kaca.

“Sudah-sudah,” kak Nafi menenangkan. “Ais kan sayang sama bu Nur?”

“Iya, sayang banget kak.”

“Nah bukti sayang Ais kepada bu Nur adalah dengan belajar lebih rajin lagi. Tidak boleh malas. Supaya cita-cita bu Nur dapat tercapai. Itulah yang menjadi tujuan utama beliau.” Kata kak Nafi lagi.

“Loh, kok cita-cita bu Nur?

“Cita-cita Ais dan semua murid kelas enam adalah cita-cita bu Nur juga dek. Kelak bu Nur akan merasa bangga melihat murid-muridnya sukses. Menjadi orang-orang yang jujur, dermawan, dan berguna bagi agama dan bangsa.”

“O, gitu ya kak.”

“Iya, tugas dek Ais sekarang teruslah belajar dengan giat. Di bangku SMP nanti tugas-tugas akan semakin sulit dan banyak. Ingat semua nasehat beliau di kelas. Tengoklah beliau meski beliau sudah tidak lagi mengajar kamu, silaturrahim ke rumahnya.”  Jelas kak Nafi. Dek Ais mangut-mangut dan mengangguk. Air matanya menetes karena terharu.

Keesokan harinya  murid-murid kelas enam berkumpul di rumah Aisyah. Seperti yang sudah disepakati, setiap orang membawa oleh-oleh untuk bu Nur. Ada yang membawa toples berisi kue kering, Ada yang membawa buah-buahan, ada yang membawa sebotol sirup rasa jeruk, dan lain-lain. Mereka mulai menuju rumah bu Nur. Bu Nur sangat terharu melihat kelakuan murid-muridnya.

“Semoga kelak kalian menjadi orang-orang besar, yang akan berguna bagi agama dan bangsa.” Kata bu Nur menahan tangis. Murid-murid mendekat ke beliau untuk mencium tangan beliau. Air mata mereka bercucuran tanpa disadari.

“ Selamat tinggal guruku, tak akan terlupa semua jasamu, nasehatmu tak akan berlalu, hanya ucapan terima kasih untukmu…”

-Kak Fatih-