Shalat Tidak Pakai Sajadah – Tanya Ustadz

Shalat Tidak Pakai Sajadah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa Kabar Ustadz, semoga sehat dan sukses selalu, perkenalkan nama saya Iftah, saya mau tanya;

  1. Bolehkah shalat tidak pakai sajadah?
  2. Berdosakan bila menunda-nunda shalat?
  3. Bolehkah berbohong demi kebaikan?
  4. Bolehkah berkerudung tipis atau kelihatan dadanya?
  5. Apa hukum tahlilan untuk orang yang sudah meninggal tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari dan seribu hari?

Maaf bila pertanyaannya banyak dan kurang berkenan,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Iftah Rizki Fatimah

Kelas VI B, MI Kreatif Khoiriyah

Sumobito, Jombang

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, ustadz dalam keadaan sehat wal afiat, Rabbana yubarik fiikum (semoga Allah memberkahi adik-adik pembaca adzkia).

Pertama, seorang muslim boleh shalat tidak memakai sajadah. Jadi langsung di lantai atau tanah. Pada zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, masjidnya berlantai tanah dan tidak memakai karpet atau sajadah. Rasulullah dan para sahabatnya shalat tanpa memakai sajadah.

Kedua, menunda-nunda shalat hingga habis waktunya aalah perbuatan yang haram dan berdosa. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Ma’aun ayat 4-5; Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” Menurut ahli tafsir, orang yang lalai adalah orang yang selalu mengakhirkan waktu shalat, melaksanakan di luar waktunya, dan tidak memperhatikan rukun-rukunnya.

Ketiga, Islam melarang umatnya untuk berbohong. Kecuali pada kondisi tertentu, seperti berbohong untuk siasat peperangan, atau berbohong demi mendamaikan muslim yang bertikai.

Keempat, wanita muslimah tidak boleh (haram) mengenakan pakaian yang tipis, termasuk kudung yang tipis atau trasnparan. Wajib memakai kerudung yang syar’i yang menutupi dadanya.

Kelima, tahlilan seperti itu tidak wajib. Bahkan, amalan ini tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiallahu’anhum. Sedangkan ibadah yang tidak contoh dan petunjuk dari Rasulllah adalah tertolak. Maka sebaiknya tidak dilakukan.