Tabungan Berpahala

1463544775237Jumat. Saatnya menabung. Adilla menyiapkan dengan buku tabungan berisi beberapa lembar uang ribuan. Dimasukkannya buku itu ke dalam tas sekolahnya. Bibirnya tersenyum, melihat tabungannya semakin bertambah.

Adilla selalu menyisihkan uang jajannya. Setiap hari, ibu memberi uang jajan dua ribu rupiah. Sebagian buat jajan, sebagian lagi ditabung. Oya, spesial untuk Sabtu ini, Adilla mendapat uang tambahan. Kemarin, pakdhe Rahman datang berkunjung ke rumah. Dan, Adilla dibagi uang saku oleh pakdhe Rahman. Alhamdulillah.

Sesampai di sekolah, Adilla langsung masuk kelas. Seperti biasa, dia menyapa teman-temannya dan bersalaman. Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi.
Seperti biasa, Ustadzah Irma, wali kelas 6-A masuk ke kelas untuk mengabsen dan mengawali kelas dengan doa dan tahfizh. Usai tahfizh, Ustadzah Irma memberikan pengumuman.
“Anak-anak, hari ini ada kabar kurang baik dari salah se orang teman kita. Shodiq anak kelas 6-D putra menderita sakit. Dia harus dirawat di rumah sakit. Nah, sebagai wujud rasa persaudaraan kita, ustadzah mengajak kalian berinfak untuk disumbangkan ke teman kita itu. Infak kalian bisa dikumpulkan mulai hari ini sampai hari Sabtu besok,” kata Ustadzah Irma.
Seisi kelas mendadak gaduh. Mereka saling bertanya satu sama lainnya.
“Dilla, kira-kira sakit apa yang si Shodiq sampai harus dirawat di rumah sakit?” tanya Sisi, teman sebangku Adilla.
“Aku juga nggak tahu,” jawab Adilla.
“Untuk pengumpulannya, nanti akan ibu siapkan amplop. Silakan diisi sesuai kemampuan kalian. Sifatnya sukarela, ya! Tidak wajib. Sofi, tolong kamu bagikan amplop infak ini ke teman-temanmu, ya!” lanjut Ustadzah.
“Ya, Ust!” jawab Shofi, yang adalah ketua kelas enam. Shofi pun langsung membagikan amplop ke teman-temannya.
“Sudah semua, kan! Baiklah. Cukup sekian dari Ustadzah. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh…!” jawab murid-murid kelas serempak.
Ustadzah Shofi pun meninggalkan kelas.

“Eh, kamu mau berinfak untuk Shodiq nggak?” Adilla bertanya pada Sisi.
“Aku besok saja. Aku mau minta uang ibuku dulu. Itu juga kalau ibuku ngasih. Kalau nggak dikasih, aku terpaksa nggak infak. Kan hari ini ibu sudah ngasih aku uang untuk ditabung,” jawab Sisi. “Kamu sendiri, gimana Dil?” Sisi ganti bertanya.
“Aku ada uang sih. Tadinya mau aku tabung. Tapi, mau aku infakkan saja,” jawab Adilla.
“Tapi kan sayang. Nanti tabunganmu nggak bertambah,” kata Sisi.
“Nggak apa-apa. Kan pekan depan bisa kumpulin uang lagi,” jawab Adilla.
“Ooo, kalau begitu, uang tabunganku juga aku infakkan saja,” kata Sisi.
“Loh, nanti gimana kamu bilang ke ibumu?” tanya Adilla.
“Tenang saja. Insyaallah ibuku nggak marah. Kan uangnya sama-sama ditabung,” jawab Sisi.
“Maksudmu?” tanya Adilla.
“Iya, infak kan juga menabung. Menabung yang berpahala. Betul, kan?” jawab Sisi.
“Betul…betul…betul…!” kata Adilla.
“Yuk, kita serahkan infak kita ke Sofi.” Adillah pun mengajak Sisi mengumpulkan infaknya ke Sofi, ketua kelas.
Lega rasanya Adillah dan Sisi. Hari ini mereka berdua sudah berinfak. Meskipun uangnya uangnya tidak jadi ditabung, tapi insyallah, tabunga kali ini lebih bermanfaat.
Nah, kalian sudah berinfak belum hari ini?

-kak adhe-