Tak Perlu Berkacamata

cerpen tak perlu berkacamata

Indah menatap kagum pada Aisyah, anak baru di kelasnya. Pindahan dari luar kota. Dia duduk tepat di samping bangku Indah, deretan nomer tiga dari depan.

Baru dua hari Aisyah masuk di kelas lima, tapi dia sudah memperlihatkan kecerdasannya. Maklum, di sekolah lamanya, dia selalu masuk tiga besar. Jadi, dia memang anak pintar.

Tapi, bukan hanya itu yang membuat Indah terkagum. Indah suka sekali melihat Aisyah yang berkacamata. Kacamata Aisyah terlihat sangat pas di wajahnya. Keren. Apalagi, Aisyah adalah satu-satunya murid berkacamata di kelasnya.

“Wah, Aisyah kelihatan keren pakai kacamata. Mungkin kalau aku pakai kacamata, aku bisa juga terlihat keren juga…!” pikir Indah. Indah pun membayangkan jika dirinya memakai kacamata, seperti Aisyah.

Tiba-tiba…

Teeet…teeet…!

Bel tanda masuk berbunyi. Indah pun tersadar dari lamunannya.

***

Sore itu, Indah membantu ibu di dapur…

“Bu, di kelas ada anak baru, lho!” Indah bercerita kepada ibunya.

“Oya…! Siapa namanya?” ibu menanggapi cerita Indah, sambil membuat bumbu nasi goreng, untuk santap malam nanti.

“Aisyah. Anaknya cantik, lho! Pintar lagi. Dia pakai kacamata. Kereeen….!” kata Indah, membanggakan teman barunya

“Masa sih, pintar mana sama kamu?” tanya ibu lagi.

“Pintar siapa, ya?” Indah tak bisa menjawabnya. “Emm, kalau aku pakai kacamata juga, bisa terlihat kerena juga nggak ya, Bu…?”

Ibu tersenyum mendengarnya. Ibu tahu keinginan Indah untuk pakai kacamata.

“Buat apa kamu pakai kacamata? Mata kamu kan normal,” kata ibu.

“Tapi, Indah ingin pakai kacamata, Bu…! Biar seperti Aisyah…!”

“Indah, Aisyah memakai kacamata itu karena matanya tidak bisa melihat jelas. Mungkin matanya minus. Jadi, Aisyah perlu kacamata untuk membantunya melihat lebih jelas!” Ibu menasihati Indah.

“Lagipula, pakai kacamata itu susah lho! Kamu harus bisa menjaganya dengan baik. Kalau kacamatamu rusak, atau hilang, atau pecah, itu sama seperti kehilangan mata, karena kamu nggak bisa melihat dengan jelas. Bersyukurlah, karena kamu nggak perlu susah-susah memakai kacamata untuk melihat indahnya dunia ini,” lanjut ibu, sambil mengusap kepala Indah.

“Iya, Bu! Alhamdulillah….!” jawab Indah.

***

Keesokah harinya. Indah yang baru masuk ke kelas terkejut melihat Aisyah menangis, dikelilingi teman-temannya. Terlihat tangannya memegang kacamata yang pecah lensanya.

“Aisyah kenapa?” tanya Indah pada Kiki, temannya.

“Kacamatanya pecah. Tadi dia tersandung tangga, lalu terjatuh. Kacamatanya lepas dan jatuh. Pecah deh lensanya,” kata Kiki.

“Ooo, gitu…!” kata Indah. Indah pun segera menghampiri Aisyah. Dia ikut menghibur Aisyah agar tidak terus-terusan menangis.

“Terima kasih teman-teman, kalian semua baik. Tapi, tanpa kacamata ini, aku benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas,” kata Aisyah, sambil terisak.

Dalam hati, Indah membenarkan kata-kata Ibu. Dia tidak lagi ingin memakai kacamata. “Alhamdulillah, mataku sehat dan semoga tetap sehat, sehingga aku bisa belajar dan mengaji dengan baik, tanpa perlu memakai kacamata,” kata Indah dalam hati.

 

~ Kak adhe ~