Teladan dari Umar bin Abdul Aziz

Teladan dari Umar bin Abdul Aziz

 

Pernahkah kalian mendengar nama Umar bin Abdul Aziz? Beliau adalah seorang tabiin dan khalifah yang sangat shalih dan zuhud. Beliau juga dijuluki khulafaur rasyidin yang kelima. Banyak teladan yang beliau contohkan.

Nah, salah satunya kisahnya adalah yang diceritakan oleh Salamah bin Dinar;

Perubahan Umar bin Abdul Aziz

Pada suatu ketika, Salamah bin Dinar mendatangi khalifah Umar bin Abdul Aziz tatkala. Saat itu, khalifah sedang berada di Khunashirah, tempat pemerahan susu.

Ketika bertemu,  Salamah bin Dinar hampir tak mengenali wajah sang khalifah. Selain sudah lama tak bertemu, penampilan Umar bin Abdul Aziz sudah banyak berubah dibandingkan saat beliau menjadi gubernur di Madinah.

Melihat kedatangan Salamah bin Dinar, Umar bin Abdul Aziz pun menyambutnya. “Mendekatlah kepadaku, wahai Abu Hazim!” panggil Umar kepada Salamah.

Dengan sedikit ragu, Salamah pun mendekat, lalu bertanya “Bukankah Anda adalah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz?”

Umar menjawab, “Benar!”

Salamah bin Dinar pun berkata, “Apa gerangan yang menyebabkan Anda berubah? Bukankah wajah Anda dahulu tampan? Kulit Anda halus? Hidup serba kecukupan?”

Umar menjawab, “Begitulah. Aku kini memang telah berubah.”

Salamah bertanya lagi, “Lantas apa yang menyebabkan Anda berubah, padahal Anda telah menguasai emas dan perak, dan Anda telah diangkat menjadi amirul mukminin?”

Umar balik bertanya, “Memangnya apa yang berubah pada diriku, wahai Abu Hazim?”

Salamah menjawab, “Tubuh Anda begitu kurus dan kering, kulit Anda yang menjadi kasar, dan wajah Anda terlihat pucat, bening kedua matamu yang telah redup..”

Menangisnya Khalifah

Tiba-tiba saja, Umar bin Abdul Aziz menangis. Lalu berkata, “Melihatku seperti ini di dunia, engkau sudah heran. Bagaimana halnya jika engkau melihatku setelah tiga hari aku di dalam kubur, mungkin kedua mataku telah melorot di pipiku, perutku telah terburai isinya, ulat-ulat tanah menggerogoti sekujur badanku dengan lahapnya. Sungguh jika engkau melihatku ketika itu, wahai Abu Hazim, tentulah lebih tak mengenaliku lagi dari hari ini. Ingatkah Anda tentang suatu hadits yang pernah Anda bacakan kepadaku sewaktu di Madinah, wahai Abu Hazim?”

Salamah bin Dinar berkata, “Saya telah menyampaikan banyak hadits, wahai amirul mukminin! Lantas hadis manakah yang Anda maksud?”

Umar berkata, “Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.”

Salamah pun teringat hadits tersebut, “Benar, aku masih mengingatnya, wahai amirul mukminin.”

Umar bin Abdul Aziz lalu berkata, “Ulangilah hadits itu untukku, karena aku ingin mendengarnya dari Anda!”

Salamah bin Dinar pun membacakan hadits tersebut, “Saya telah mendengar Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian terhampar rintangan yang terjal, sangat berbahaya, tidak ada yang mampu melewatinya dengan selamat melainkan orang yang kuat’.”

Mendengar hadits tersebut, Umar bin Abdul Aziz kembali menangis. Kali ini tangisnya lebih keras. Lalu, Umar mengusa[ air matanya dan menoleh ke arah Salamah bin Dinar, seraya berkata, “Apakah Anda sudi menegurku, wahai Abu Hazim, bila aku terlena dalam mendaki rintangan yang terjal tersebut sehingga aku berhasil menempuhnya? Karena aku khawatir jika aku tidak berhasil.”

Itulah teladan dari Umar bin Abdul Aziz. Beliau sangat zuhud dalam urusan dunia. Beliau takut jika kelak mendapat kesusahan di akhirat.