Teladan Kasih Sayang Rasulullah

Teladan Kasih Sayang Rasulullah

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam adalah teladan bagi manusia. Beliau dikaruniai akhlak yang sempurna. Salah satu akhlak mulia Rasulullah adalah mengasihi dan menyayangi umatnya.  Bahkan, beliau juga mengasihi orang-orang yang memusuhinya.

Pada awal turunnya Islam, Rasulullah sering dimusuhi dan dijahati oleh orang-orang musyrik. Namun, Rasulullah tidak pernah marah. Beliau tidak membalas dendam. Sebaliknya, Rasulullah mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang berbuat jahat kepada beliau.

Suatu ketika, ibunda ‘Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami  suatu hari yang lebih berat dibandingkan hari perang Uhud?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sungguh aku banyak merasakan gangguan (perlakuan jahat) dari kaummu. Dan gangguan paling berat yang datang dari mereka adalah ketika kejadian pada hari Al-Aqabah.”

Pada kejadian itu, Rasulullah pergi ke kampung Aqabah di Thaif. Beliau menemui Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal untuk meminta bantuan dan mendakwahkan Islam. Ibnu Abdi Yalil adalah salah seorang tokoh di Thaif. Namun, Rasulullah tidak mendapatkan sambutan yang baik. Bahkan, orang-orang Thaif melempari beliau dengan batu hingga wajah beliau berdarah.

Rasulullah pun pergi meninggalkan Thaif dengan hati sedih. Hingga ketika Rasulullah sampai di Qarnu ats-Tsa’alib, beliau mengangkat wajahnya. Beliau melihat ada awan yang melindunginya. Di atas awan tersebut, ada Malaikat Jibril.

Malaikat Jibril memanggil beliau, lalu berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan apa bantahan mereka kepadamu. Dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk kamu perintahkan sesuai kehendakmu terhadap mereka.”

Malaikat penjaga gunung berkata, ‘Wahai Muhammad, jika engkau ingin aku menimpakan dua gunung Akhsyab  (dua gunung di Makkah)  ke atas mereka, niscaya akan aku lakukan.”

Namun, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,  “Tidak. Aku tidak menginginkannya. Namun, aku berharap kepada Allah bahwa akan terlahir dari mereka, orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Subhanallah! Itulah tanda kasih sayang Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Justru, beliau membalas dengan kebaikan, yaitu mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah sehingga bisa berada di jalan yang lurus.