Tidak Baik Mencela Makanan

Tidak Baik Mencela Makanan

Anak shalih selalu menunjukkan perbuatan baik, di mana dan kapan saja. Berbuat baik harus dibiasakan. Berbuat baik dengan mencontoh teladan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Dan salah satu teladan dari Rasul adalah beliau tidak pernah mencela makanan.

Coba perhatikan sekeliling kamu, betapa banyak orang mencela makanan yang tidak disukainya. Banyak yang mencela makanan karena terlalu asin, terlalu masam, atau terlalu pedas.

Rasulullah yang mulia tidak pernah mencela makanan. Beliau memberi teladan, jika suka makanlah, tapi kalau tidak maka tinggalkan saja. Kalau tidak suka, jangan mencela. Karena makanan adalah nikmat yang harus disyukuri.

Mencela itu Tidak Baik

Mencela makanan itu nggak baik. Mencela makanan bukan hanya mencela rasa atau bentuk makanannya. Makanan itu ada karena ada yang membelinya, ada yang memasaknya, ada yang menghidangkannya. Jika kamu mencela makanan, sama saja kamu telah menyakiti ayah yang membelikannya, atau melukai hati ibu yang memasaknya, atau si bibi yang menghidangkannya.

Mencela satu jenis makanan saja, telah banyak orang yang tersakiti. Bagaimana lagi jika setiap makanan yang tidak disuka terus dicela, pasti banyak berakibat dosa.

Karenanya kamu harus tahu proses hadirnya makanan, agar bisa peduli dan tidak mudah mencela makanan. Sebelum sayur matang terhidang di meja makan, ibu harus membeli sayuran mentah di pasar, mencuci agar bersih, memotong-motong, memasaknya hingga matang, dan menghidangkannya. Maka ketika kamu mencela sayur, sama saja kamu menyakiti hati ibu yang telah repot menghadirkan sayur hingga berada di meja.

Demikian pula dengan makanan matang, atau makanan dalam siap saji dalam kemasan. Bayangkan, bumu harus pergi ke warung, kadang harus antri, lalu pulang terburu-buru, kemudian menghidangkannya untuk kamu. Ini perlu tenaga dan waktu. Jika akanan itu kamu cela, maka ibumu yang membelikan, tersakitkan hatinya. Kasihan kan?

Nah, setelah kamu tahu bagaimana makanan itu ada, maka berikan apresiasi positif atas jerih payah dan kesungguhan orang yang menghadirkan masakan sampai tersaji di meja kamu. Siapapun yang melakukannya. Kamu harus membiasakan memuji, mengucapkan terimakasih, dan nikmatilah masakannya. Atau sekurangnya, kamu tidak mencelanya.

Tinggalkan yang Tidak Disukai

Lapangkan dadamu ketika menerima makanan. Jangan mudah menolak, apalagi sambil mencelanya. Jangan mudah berkata ‘tidak mau,’ sementara kamu belum tahu apa rasanya. Terkadang baru melihatnya, kamu sudah langsung mencela menolaknya. Ini bukan sikap yang baik.

Mari biasakan, mengambil makanan yang disuka saja. Tinggalkan yang tidak kamu suka. Jangan mudah marah ketika diberi makanan yang tidak sesuai selera kamu. Jika nggak mau, tolaklah dengan cara yang baik dan sopan. Jangan mencela makanan. Apalagi mencela pembuat makanannya.

Mencela makanan adalan kebiasaan buruk. Sebagai anak yang shalih, kamu tidak boleh melakukannya. Mencela makanan dapat melukai perasaan orang yang membelikannya. Mencelanya, telah menyakiti hati orang yang memasaknya. Mencelanya, telah menjadikan marah yang menghidangkannya. Mencelanya, tidak menghargai jerih payah yang melayaninya. Mencelanya, mengabaikan kebaikan orang yang berniat memuliakannya. Mencelanya adalah dosa, Allah dan rasul tidak menyukainya.