Tsumamah bin Utsal, Bertalbiyah di Makkah

ilustrasi mekah

Tsumamah adalah seorang pemimpin bani Hanifah. Dia seorang bangsawan Arab pada masa jahiliyah. Dia juga menjadi salah seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.Suatu saat, dia menerima surat dari Rasulullah. Surat itu berisi ajakan dari Rasulullah kepada para raja di Arab untuk memeluk Islam. Tsumamah merasa terhina. Dia tak mau menuruti ajakan Rasulullah. Bahkan, Tsumamah berniat memerangi Rasulullah. Namun, niat jahat Tsumamah dapat dicegah oleh pamannya.

Suatu ketika, Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah. Pada masa jahiliyah, ibadah umrah dan haji biasa dilakukan oleh orang-orang Arab penyembah berhala. Hanya, tata caranya berbeda dengan ajaran Rasulullah. Maka, berangkatlah Tsumamah meninggalkan bumi Yamamah menuju Makkah. Dia sudah membayangkan akan melaksanakan thawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya. Sayangnya, di tengah perjalanan, Tsumamah ditangkap oleh pasukan Islam yang sedang berpatroli menjaga perbatasan Madinah.Tsumamah ditawan. Dia diikat di salah satu tiang masjid. Menunggu Rasulullah yang akan menetapkan tindakan bagi si tawanan.

Ketika melihat tawanan tersebut, Rasulullah langsung mengenalinya. Beliau bertanya kepada orang-orang yang menangkapnya, “Apakah kalian tahu siapa dia?”Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”Kemudian Rasulullah bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkalah kepada Tsumamah bin Utsal.”Ya, Rasululullah menjamu Tsumamah seperti seorang tamu, bukan seorang tawanan. Rasulullah ingin melunakkan hati Tsumamah, sebelum beliau mengajaknya masuk Islam. Hingga suatu hari, Rasulullah menemui Tsumamah, dan bertanya, “Apa yang kamu miliki, wahai Tsumamah?”Tsumamah menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah, namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf  kepada orang yang berterima kasih. Jika kamu ingin harta, maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”Rasulullah pun meninggalkannya. Namun, selama dua hari, beliau tetap menjamunya dengan baik. Kemudian Rasulullah menemuinya kembali, dan bertanya, “Apa yang kamu miliki, wahai Tsumamah?”Tsumamah menjawab dengan jawaban yang sama. Tiga kali Rasulullah bertanya, jawaban Tsumamah tetap sama. Maka, Rasulullah pun meminta para sahabatnya untuk melepaskan Tsumamah. Tsumamah meninggalkan masjid Nabawi. Dia berjalan hingga sampai di kebun kurma yang memiliki mata air. Di sana, Tsumamah bersuci, lalu melangkan kembali menuju masjid.

Sesampai di masjid, dia tak ragu berseru di hadapan orang-orang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhaq di sembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.” Tsumamah bersyahadat dan memeluk Islam. Lalu, Tsumamah menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paing aku cintai.”Rasulullah pun menyambut gembira Tsumamah.

Beliau memberi kabar gembira, bahwa dosa-dosanya yang lalu telah diampuni oleh Allah. Bahkan, Rasulullah mengijinkan Tsumamah untuk melanjutkan ibadah umrah. Kali ini, umrah Tsumamah bukan untuk berhala, melainkan mengikuti pentunjuk dari Rasulullah. Tsumamah bin UtsalYa, Tsumamah bin Utsal menjadi muslim pertama yang masuk ke Makkah dengan bertalbiyah. Karena ketika masuk Makkah, Tsumamah berseru lantang, “Labbaik allahumma labbaik…! “ Seruan yang mengejutkan dan membuat takut penduduk Makkah.