Tsumamah Bin Utsal – Ketika Benci Menjadi Cinta

 

Ketika Rasulullah masih hidup, sudah ada orang yang mengaku. Mereka adalah nabi-nabi palsu. Salah satu nabi palsu itu bernama Musailamah Al-Kadzab. Dia tinggal di Yamamah, yang sekarang menjadi kota Riyadh di Arab Saudi.

Musailamah adalah pemeluk agama nasrani. Dia menguasai kitab injil.  Dia juga pandai bercakap. Ketika dia menyatakan diri sebagai nabi, orang-orang tertipu dan mengikuti ajarannya.

Semakin hari pengikutnya kian bertambah banyak. Dari rakyat biasa sampai para pemimpin suku. Salah satu pengikutnya adalahTsumamah bin Utsal, pemimpin bani Hanifah.

Suatu ketika, Tsumamah  pergi mengunjungi Ka’bah. Dia pergi seorang diri menuju Makkah, dengan mengendarai seekor unta. Di perbatasan kota, dia bertemu dengan para sahabat Nabi yang berjaga di perbatasan kota.

“Siapa namamu, dari mana asalmu?” tanya salah seorang sahabat.

“Tsumamah dari Yamamah,” jawab Tsumamah.

Para sahabat lalu menangkapnya. Mereka curiga Tsumamah adalah pengikut nabi palsu Musailamah dari Yamamah. Bisa jadi dia akan memata-matai kaum muslimin.

Tsumamah dibawa ke pusat kota dan diikat pada salah satu tiang masjid. Ketika Rasulullah melihatnya beliau berkata, “Tahukah kalian siapa orang yang kalian tangkap itu?”

“Tidak wahai Rasul, jawab para sahabat.

“Dia adalah pemimpin bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal Al-Hanafy. Perlakukan dia dengan baik,” kata Rasulullah lagi. Para sahabat pun mengikuti kata beliau.

Tsumamah Bin Utsal Masuk Islam

Setiap hari Rasulullah menengoknya dan menanyakan kabarnya, “Apa kabar, wahai Tsumamah?”

“Baik, wahai Muhammad,” jawab Tsumamah. Lalu, dia berkata dengan penuh kebencian, “Wahai Muhammad, engkau tidak akan selamat jika membunuhku karena kaumku pasti akan membalasmu. Tapi jika kamu melepasku aku akan berterima kasih kepadamu. Katakan apa yang engkau inginkan pasti akan aku berikan.”

Rasulullah tersenyum dan meninggalkannya. Esok harinya Rasulullah menengoknya kembali dan menanyakan kabarnya. Lagi-lagi ia mengucapkan perkataan yang sama dan bersikap angkuh. Begitu seterusnya sampai beberapa hari.

Setiap hari, Tsumamah menyaksikan kehidupan kaum muslimin. Dilihatnya, kaum muslimin adalah kaum yang rajin beribadah dan hidup disiplin. Dia melihat para sahabat berperilaku baik dan mulia. Dia mendengakan lantunan bacaan Al-Qur`an dari para sahabat yang indah. Dia pun kagum dengan akhlak Rasulullah yang sangat ramah.

Hingga suatu hari, Tsumamah dibebaskan oleh Rasulullah. Dia dibekali makanan yang banyak untuk perjalanannya. Tsumamah melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi Ka’bah dan kemudian pulang kembali ke tempat tinggalnya.

Setelah beberapa hari berlalu, dia kembali lagi menemui Rasulullah orang yang sangat dia benci. Bukan untuk memusuhi beliau, namun untuk mengucapkan kalimat syahadat di hadapan beliau. Allahu Akbar! Sungguh hidayah Allah sangatlah indah dan mahal. Dia memutuskan untuk meninggalkan ajaran Musailamah si nabi palsu menuju ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah sungguh dahulu engkau adalah orang yang sangat aku benci dan sekarang engkau menjadi orang yang sangat aku cintai. Dahulu agamamu adalah agama yang aku benci, namun sekarang telah menjadi agama yang aku sukai. Aku menyesal karena dahulu telah memerangi dan membunuh para sahabatmu, lalu hukuman apa yang pantas untukku?”

Rasulullah menjawab, “Tidak ada hinaan bagimu. Islam telah menghapus semua kesalahanmu yang telah lalu.” Mendengar hal itu maka bersyukurlah ia kepada Allah.