Tugas Mengarang

tugas mengarang

Sudah setengah jam lebih Hana melamun di depan meja belajar. Tugas Bahasa Indonesia kali ini membuatnya setengah pusing.

Ya, tugas membuat karangan empat halaman kertas folio. Itulah yang membuat Hana pusing. Membuat satu halaman saja sudah lelah berpikir. Apalagi empat halaman.

Siapa juga yang tidak pusing? Hana masih belum mulai menulis. Kertas folio di hadapannya masih putih bersih, belum ada satupun tercoret olehnya. Pikirannya buntu. Tidak punya ide untuk menulis.

Hana kembali mencoba memaksakan menulis. Tapi hanya bisa dua atau tiga paragrap saja yang ia tulis. Selanjutnya lebih banyak melamun, Menyebalkan, bukan!

Tidak lama kemudian Hana memulai menulis lagi. Tapi mendadak Bunda memanggilnya dari ruang tamu.

“Hana, Bunda sama Rafa pergi ke mini market dulu ya, Sayang! Kamu mau ikut tidak?” tanya Bunda.

“Nggak deh, Bun! Aku lagi mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang belum selesai!” Hana menjawab dari dalam kamar.

“Ya, sudah Bunda sama adikmu berangkat dulu ya. Bunda sama Rafa mau belanja bulanan dulu. Ada cemilan di kulkas. Kalau mau, ambil saja ya, Sayang!” pesan Bunda sebelum meninggalkan Hana.

“Iya, Bunda!” seru Hana. Usai Bunda pergi, Hana mencoba kembali menulis. Kali ini, dia mulai lancar menulis. Hingga tidak terasa, ia bisa menyelesaikan empat halaman kertas folio. Ah, lega banget rasanya…!

Hana merasa tenggorokannya kering. Ia haus. Diambilnya jus kotak rasa guava. Nyesss…Segar rasanya! Saat jus itu masuk ke tenggorokkannya. Hilanglah rasa haus itu. Apalagi tugas mengarang menguras pikirannya.

Hana lalu memasukan lembar tugas mengarangnya ke dalam tas. Kemudian ia mempersiapkan segala perlengkapan sekolah.

Esok harinya di sekolah Hana langsung menuju kelas. Tapi saat mau menuju kelas Zahra, teman sebangkunya memanggil. Zahra terburu-buru mengejar Hana.

“Hana, kamu sudah mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, belum?” tanya Zahra.

“Sudah! Kamu sendiri?” jawab Hana balik bertanya.

“Sudah dong!” kata Zahra penuh semangat. Karena ia memang suka menulis. Jadi baginya mudah jika hanya mengarang.

“Iya, kalau kamu sih mudah. Kalau aku harus berpusing dulu baru aku dapat ide. Menyebalkan, bukan!” Hana merengutkan mukanya.

“Bagus itu!” tukas Zahra.

“Bagus apanya?” kata Hana balik tanya lagi.

“Ya, bagus jadi kamu nanti terbiasa menulis. He-he!” ucap Zahra kembali sambil tertawa kecil lalu masuk ke dalam kelas.

Hana yang berada di belakang Zahra mukanya dilipat tiga. Karena Zahra tadi meledeknya. Lalu mereka duduk di bangkunya masing-masing.

Tidak lama kemudian datang Bu Ayu, wali kelas Hana di kelas VB. Di mana Hana duduk sekarang. Bu Ayu lalu langsung menyuruh untuk dikumpulkan tugas itu kepadanya.

“Bagaimana anak-anak Kalian sudah mengerjakan tugas dari Ibu minggu lalu? Sekarang kumpulkan!” perintah Bu Ayu.

“Sudah, Bu!” ucap serentak beberapa murid.

“Belum, Bu!” timpal beberapa murid lagi.

“Jika ada yang tidak mengerjakan harap dikerjakan di luar. Bila sudah selesai Kalian boleh masuk kembali,” lanjut Bu Ayu tegas. Ah, untung aku bisa menyelesaikan juga tugas mengarang ini, gumam Hana.

“Untung apa?” tanya Zahra yang ternyata mendengar gumaman Hana.

“Ah, nggak apa-apa kok, Ra!” seru Hana.

“Oh..!” tukas Zahra pendek.

Hana dan Zahra langsung maju ke depan mengumpulkan tugas mengarang itu. Tidak lama kemudian tugas Bahasa Indonesia itu dinilai Bu Ayu. Akhirnya diumumkan siapa saja yang dianggap bagus olehnya. Semua pun menunggu pengumuman itu.

“Zahra, Ilham dan Hana, Kalian yang terbaik dari teman-teman lainnya. Maka itu Ibu memutuskan Kalianlah yang mewakili sekolah kita untuk perlombaan

“Lomba Menulis Antar Sekolah Dasar se-Nusantara” akan datang,” Bu Ayu pun memanggil nama mereka.

Hana terkejut saat namanya terpanggil. Tapi ia sangat terharu dengan hal itu. Apalagi apa yang dilakukannya tidak sia-sia. Dengan kesungguhan ia mengerjakan tugas mengarang itu sampai berpusing kepala akhirnya membuahkan hasil. Ternyata ia memiliki bakat menulis.

“Selama ya, Na!” ucap Zahra.

“Iya! Kamu juga, Ra,” jawab Hana.

Saat itu juga Hana ingin segera pulang. Ingin sekali memberitahukan Bunda jika ia mewakili sekolah untuk lomba menulis. Betapa bahagianya Hana saat itu. Ternyata ia memiliki bakat menulis seperti Neneknya yang dulu seorang penulis cerita anak. Tentu Bunda akan terkejut nantinya. Sekarang Hana bertekad mengarang tidak akan menjadi momoknya lagi. Dulu ia boleh lemah sekali yang namanya mengarang. Tapi sekarang? Hana semakin semangat untuk menulis![]

 

BACA JUGA: PUASA PERTAMA FAHRI