Umar bin Khattab – Hanya Berharap Kemuliaan dari Allah

Umar bin Khattab adalah khalifah yang sangat adil, jujur, dan bijaksana. Beliau juga berani dan tegas dalam membela kebenaran. Beliau berpawakan besar dan berfisik kuat serta piawai dalam memimpin perang. Rasulullah sangat memujinya, dengan sabdanya. “Andaikata ada nabi setelahku maka Umarlah orangnya.”

Umar bin KhattabNamun kemuliaannya tidak membuat Umar bin Khattab berbangga diri. Sebaliknya, Umar semakin takut kepada Allah. Seringkali beliau menangis karena merasa dirinya hina dihadapan Allah.

Umar bin Khattab sangat tegas dalam memimpin. Beliau menegakkan aturan-aturan dari Allah dan Rasul-Nya. Siapa pun yang berani melanggar aturan Allah, pasti akan diberi tindakah tegas. Karena itulah, Umar bin Khattab sangat dicintai oleh kaum muslimin, dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.

Umar bin Khattab dan Kaisar Romawi

Suatu ketika, Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Kaisar ingin tahu, seperti apa kehidupan seorang pemimpin Islam sangat ditakuti musuh-musuhnya. Setibanya di Madinah, utusan kaisar ini bertanya tentang Umar bin Khattab kepada penduduk Madinah. “Dimana pemimpin kalian?”
Penduduk Madinah menjawab, “Dia sedang pergi keluar Madinah.”

Utusan Kaisar tersebut lalu mencari Umar di luar Madinah. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang laki-laki berpakaian sederhana yang sedang tidur nyenyak di bawah pohon. Betapa terkejutnya ia, setelah diberi tahu bahwa orang itu adalah Umar bin Khattab, sang Amirul Mukminin.
Utusan ini sangat kagum dan takjub melihat Umar yang tidur nyenyak, tanpa dikawal oleh prajurit bersenjata. Dia pun bergumam, “Beginilah keadaan orang yang ditakuti semua raja. Hai Umar, engkau berbuat adil, dan engkau pun bisa tidur dengan nyenyak. Sedangkan Raja kami dzalim, pantas saja mereka tidak bisa tidur nyenyak dan selalu ketakutan.”

Baca juga :  Abdullah bin Hudzafah – Mencium Kepala Kaisar  

Terebutnya Yerusalem

Di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, kaum muslimin berhasil merebut Yerusalem dari tangan Romawi. Pemimpin Yerusalem meminta Amirul Mukminin datang untuk diserahi kunci kota Yerussalem. Maka segeralah beliau pergi bersama seorang pelayannya.

Mereka berdua membawa seekor unta. Setengah perjalanan, Umar melihat pelayannya kelelahan. Beliau memutuskan untuk turun dari unta, dan menyuruh pelayannya naik untanya. Si pelayan menolak, namun kemudian Umar menasehatinya untuk bersikap seperti biasa saja. Masya Allah, begitu mulianya seorang pemimpin ummat ini.

Di Yerusalem, orang-orang sudah berkumpul di gerbang kota. Mereka ingin melihat kedatangan pemimpin besar umat Islam ini. Namun, yang datang adalah dua orang berpakaian lusuh dan seekor unta.

Abu Ubaidah yang menjadi panglima pasukan Islam di Yerusalem melihat kedatangan Amirul Mukminin. Dia pun bergegas menemuinya. Dilihatnya, Umar bin Khattab memakai baju yang sederhana dan kotor. Abu Ubaidah berkata, “Wahai Khalifah, engkau adalah pemimpin yang sangat mereka hormati. Bagaimana mungkin anda memakai pakaian ala kadarnya seperti ini?”

Khalifah Umar marah mendengar ucapan Abu Ubaidah, seraya berkata, “Kita adalah orang-orang yang telah diberi kemuliaan oleh Allah. Jika kita mencari kehormatan kepada mereka, maka kita akan menjadi orang yang hina.”
Umar pun memasuki gerbang Palestina dengan tetap menuntun unta. Orang-orang menyambutnya. Mereka segera menuntun orang yang berada di atas unta untuk memindahkannya ke kereta kuda mewah. Mereka mengira bahwa ia adalah Khalifah Umar. Padahal ketika itu pelayannya yang berada diatas unta.
“Saya bukanlah Khalifah, beliau inilah Khalifah yang kalian nantikan kedatangannya,” kata pelayan itu sambil menunjuk ke arah beliau Khalifah tertinggi, Umar bin Khattab.

Itulah teladan dari Umar bin Khattab, pemimpin yang sederhana. Pemimpin yang hanya berharap kemuliaan dari Allah, bukan pujian dan penghormatan dari sesama manusia.