Umar bin Khattab, Teladan Para Pemimpin

Umar bin Khattab, Teladan Para Pemimpin

Satu lagi kisah dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Pemimpin kaum muslimin yang sangat dekat dengan umatnya.

Suatu malam, Amirul Mukminin berkeliling untuk melihat keadaan rakyatnya. Beliau berjalan melewati sebuah perkampungan di Madinah. Tiba-tiba, beliau mendengar suara rintihan wanita dari dalam sebuah rumah gubuk.

Didekatinya rumah tersebut. Ada seorang laki-laki sedang duduk di depan pintu rumah. Beliau mengucapkan salam dan lalu menanyakan keadaan mereka.

Laki-laki tersebut menjawab, bahwa dia adalah seorang badui yang ingin mendapatkan kemurahan dari Amirul Mukminin.  Rupanya, laki-laki badui tersebut tidak tahu, bahwa Amirul Mukminin sedang berada di hadapannya.

Umar bin Khattab bertanya lagi, “Aku mendengar ada suara rintihan seorang wanita Apa gerangan yang sedang terjadi padanya?”

Laki-laki badui tidak menjawab, namun malah mengusir Umar. “Pergilah! Semoga Allah merahmatimu, sehingga engkau mendapatkan apa yang engkau cari. Janganlah bertanya tentang sesuatu yang tak ada gunanya bagimu.”

Umar bin Khattab tak segera beranjak pergi. Beliau berkata, “Ceritakan apa masalahmu, mungkin aku bisa membantumu, jika mampu!”

Lalu laki-laki badui itu menjawab, “Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tak ada seorang pun yang dapat membantunya.”

Mendengar jawaban tersebut, Umar bin Khattan segera pergi. Dengan tergesa-gesa, beliau kembali ke rumahnya.

Beliau segera masuk menemui istrinya, Ummu Kultsum. Kepada Ummu Kultsim, Umar berkata, “Apakah engkau ingin mendapatkan pahala yang akan Allah limpahkan kepadamu?”

Ummu Kultsum menjawab dengan bersemangat, sesolah-olah mendengar kabar gembira, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut, wahai Amirul Mukminin?”

Lalu, Umar bin Khattab menceritakan kejadian yang baru dijumpainya. Bahwa, ada seorang wanita badui yang akan melahirkan bayinya, namun tak ada orang yang datang menolongnya.

Lahirnya Seorang Anak Laki-Laki

Ummu Kultsum segera bangkit dan mengambil peralatan untuk membantu melahirkan, dan kebutuhan bagi bayi. Sedangkan Amirul Mukminin membawa kuali yang di dalamnya ada mentega dan makanan. Mereka berdua segera berjalan menuju gubuk si badui.

Sesampainya di sana, Ummu Kultsum langsung masuk ke dalam gubuk. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Ummu Kultsum membantu ibu melahirkan bayinya.

Di luar gubuk, Amirul Mukminin berbincang-bincang bersama laki-laki badui tersebut, sambil memasak  makanan yang beliau bawa.

Tak lama kemudian, dari dalam gubuk terdengar tangis bayi. Disusul suara Ummu Kultsum yang secara spontan berteriak, “Sampaikan kabar gembira kepada temanmu, wahai Amirul Mukminin! Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki.”

Teriakan Ummu Kultsum itu membuat orang Badui tersebut terkejut. Terkejut, karena orang di sampingnya, yang sedang memasak dan meniup api itu adalah Amirul Mukminin. Tak kalah kaget adalah sang ibu yang melahirkan bayinya. Dia sama sekali tak menyangka, orang yang menolong persalinannya adalah istri Amirul Mukminin, Ummu Kultsum.

Bagaimana tidak terkejut, seorang kepala negara dan pemimpin umat Islam, rela keluar malam-malam demi menolong seorang wanita badui yang hendak melahirkan. Tapi, itulah keteladanan Umar bin Khattab. Beliau selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya.