UMMU KULTSUM BINTI UQBAH, Memilih Allah dan Rasul-Nya

UMMU KULTSUM

Perjanjian Hudaibiyah telah disepakati. Antara pihak Rasulullah dan kaum Quraisy. Perjanjian ini sebenarnya merugikan kaum muslimin.

Diantara isi perjanjian adalah, jika ada seorang Quraisy Makkah yang mendatangi Madinah maka ia harus dikembalikan ke Makkah meskipun ia beragama Islam. Sedangkan jika seorang Madinah mendatangi Makkah maka ia tidak boleh kembali ke Madinah.

Jelas perjanjian ini adalah perjanjian sepihak oleh kaum Quraisy. Perjanjian yang tidak dapat dihindari oleh Rasulullah. Para sahabat hanya dapat bersabar dengan cobaan berat itu. Kaum Muhajirin yang tinggal di Madinah kini tidak dapat menengok keluarganya yang berada di Makkah.

Ummu Kultsum binti Uqbah binti Abi Muith adalah seorang remaja muslimah. Dia sangat mencintai Rasulullah. Dia memiliki seorang ayah yang bernama Uqbah. Uqbah adalah seorang kafir yang sangat membenci Rasulullah. Ummu Kulsum terpaksa menyembunyikan keislamannya agar tidak dianiaya oleh ayahnya.

Ummu Kultsum tidak tahan tinggal di tengah-tengah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah. Perangai mereka yang buruk membuat Ummu Kultsum ingin segera meninggalkan Makkah. Ia bertekad akan berhijrah ke Madinah seorang diri.

Ia relakan segalanya. Ayahnya, ibunya, sanak saudaranya, hartanya, dan tempat tinggalnya. Ia tinggalkan semuanya demi Allah dan Rasul-Nya. Di malam hari yang gelap, ia mantapkan hatinya untuk berhijrah, melangkah meninggalkan rumahnya menuju Madinah.

Setelah melangkah agak jauh dari Makkah, Ummu Kultsum beristirahat sejenak. Dia bingung karena belum pernah bepergian jauh seorang diri. Dia juga tidak tahu arah menuju Madinah. Dia hanya bisa berdoa dan bersabar. Tidak terpikir olehnya untuk kembali pulang.

Tiba-tiba seorang laki-laki melintas di tempat dia beristirahat dan bertanya, “Hendak ke manakah anda?” Ummu Kultsum menjawabnya dengan balik bertanya, “Dari suku manakah anda?”

“Saya dari suku Khuza’ah,” jawab lelaki itu.

Legalah hatinya, karena suku Khudza’ah telah bersekutu dengan Rasulullah. Dia takut jika laki-laki itu berasal dari suku Quraisy Makkah.

Ummu Kultsum lalu meminta tolong untuk diantarkan ke Madinah. Lelaki baik hati itu menyanggupi permintaan Ummu Kultsum tanpa mengharapkan imbalan. Lelaki itu adalah lelaki yang baik perangainya. Ia tidak pernah memandang ke arah Ummu Kultsum dan tidak berbicara kecuali dalam hal penting saja. Ketika istirahat, dia akan menjauh dari Ummu Kultsum.

Akhirnya sampailah keduanya di Madinah. Ummu Kultsum sangat senang. Tak lupa, dia mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada lelaki yang telah mengantarnya.

Namun rasa senangnya tertahan ketika kakaknya yang masih kafir menjemputnya. Dia memaksa untuk membawa Ummu Kultsum kembali ke Makkah.

Ummu Kultsum mengiba kepada Rasulullah untuk tidak diserahkan kepada keluarganya yang masih kafir. Dia memilih tinggal di Madinah karena cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Maka dengan tegas Rasulullah bertekad untuk tidak menyerahkan Ummu Kultsum kepada keuarganya, dengan diri beliau sendiri sebagai jaminannya. Pada akhirnya kakak Ummu Kultsum kembali ke Makkah dengan tangan hampa.

Begitulah keberanian Ummu Kultsum binti Uqbah. Perempuan pemberani yang lebih memilih Allah dan Rasul-Nya di atas rasa cintanya kepada keluarga dan kerabatnya.

 

BACA JUGA:  Tsumamah Bin Utsal – Ketika Benci Menjadi Cinta