Utsman bin Affan Dermawan yang Rendah Hati

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan namanya. Beliau lahir dari keluarga pedagang yang kaya raya. Beliau dibesarkan di kalangan kabilah Umayyah yang sangat dihormati di kalangan suku Quraisy. Tapi, kekayaan dan kehormatannya tidak membuat Utsman sombong dan keras hati. Utsman justru berhati lembut dan sangat dermawan.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi dan rasul, Utsman tidak kuasa menolak kebenaran yang disampaikan Rasulullah. Utsman pun memeluk Islam dan menjadi pembela dakwah Nabi Muhammad.

Utsman bin Affan adalah teladan dalam bersedekah. Utsman memang kaya raya. Beliau adalah pedagang yang sukses. Beliau juga sangat dermawan. Beliau tak segan memberikan harta kekayaannya untuk kesejahteraan umat Islam.

Bersama Rasulullah dan kaum muslimin lainnya, Utsman bin Affan ikut hijrah ke Madinah. Di Madinah, Utsman kembali menjadi pedagang yang sukses.

Suatu ketika, Madinah mengalami musim kemarau panjang. Beberapa sumber air mengering. Kaum muslimin Madinah pun kesulitan mendapatkan air bersih.

Di sekitar Madinah, ada satu sumur yang masih ada airnya, namanya sumur Raumah. Sumur itu dimiliki oleh seorang pria Yahudi. Kaum muslimin bisa mengambil air dari sumur tersebut, namun Si Yahudi meminta imbalan yang sangat mahal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat prihatin melihat keadaan umatnya. Beliau lalu bersabda; “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala.” (HR. Muslim).

Utsman bin Affan segera memenuhinya. Didatanginya si Yahudi pemilik sumur itu. Utsman menawar dengan harga tinggi. Namun, si Yahudi menolak menjualnya. “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku idak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari,” kata si Yahudi.

Utsman tak kehilangan akal. “Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu. Satu hari menjadi milikmu. Satu hari menjadi milikku. Begitu seterusnya, kita berdua bergantian menjadi pemiliki sumur ini.

Si Yahudi setuju, karena dia bisa mendapatkan uang banyak, tapi tidak kehilangan sumurnya.

Lalu, pada hari Utsman mendapat giliran menjadi pemilik sumur, penduduk Madinah bisa mengambil airnya secara gratis. Utsman menyuruh mereka mengambil air yang cukup untuk dua hari.

Sehingga keesokan hari, si Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli. Penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah.

Si Yahudi itupun baru sadar akan siasat Utsman. Dia lalu mendatangi Utsman untuk menawarkan sumurnya. Utsman setuju. Dibelinya sumur itu seharga 20.000 dirham. Sumur Raumah pun menjadi milik Utsman secara penuh.

Kemudian Utsman bin Affan mewakafkan sumur Raumah. Sejak saat itu, sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk si Yahudi pemilik lamanya.

Itulah satu contoh kedermawanan Utsman bin Affan. Beliau mewakafkan sumur yang airnya terus dimanfaatkan oleh penduduk Madinah. Beliau tak sayang mengeluarkan banyak harta di dunia, karena berharap surga di akhirat kelak.

 

BACA JUGA:  Khansa Bintu Amr, Ibunda Para Syuhada