Yakin Allah Mahamampu

Yakin Allah Mahamampu

Pada saat Nabi Muhammad masih berada di Makkah, Allah membawa Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi’raj. Isra’ adalah perjalanan dari Baitul Haram di kota Makkah menuju Baitul Maqdis di Palestina. Adapun Mi’raj adalah perjalanan dari baitul Maqdis menuju Sidratul Muntaha, langit yang paling tinggi. Di Sidratul muntaha, Nabi Muhammad mendapat perintah shalat lima waktu.

Perjalanan itu sangat jauh. Jarak dari kota Makkah menuju Palestina sekira 1500 Km. jarak antara bumi dan sidratul muntaha juga sangat jauh. Tak seorangpun yang mengetahui jaraknya secara pasti. Namun, Nabi Muhammad melakukan perjalanan jauh itu hanya dalam waktu satu malam.

Dan pada pagi harinya, Rasulullah mengabarkan hal itu kepada para shahabatnya. Orang-orang pun gempar. Sebagian orang merasa ragu akan hal itu. Benarkah Nabi Muhammad mampu melakukan perjalanan sejauh itu hanya dalam waktu satu malam? Dengan apa ia melakukan perjalanan sejauh itu?

Orang-orang kafir mulai mengejek dan menuduh bahwa Nabi Muhammad telah berbohong. Bagaimana mungkin Beliau bisa melakukan perjalanan sejauh itu dan mampu menembus langit?

Mereka pun datang menemui Abu Bakar as shiddiq. Mereka berkata, “ Hai abu Bakar, temanmu itu bercerita bahwa tadi malam dia pergi ke baitul maqdis, kemudian ke langit, dan sekarang sudah kembali ke Makkah. Apakah kamu percaya cerita temanmu itu?”

Abu bakar berkata, “ Siapa yang bercerita seperti itu?”

Mereka menjawab, “ Temanmu Muhammad. Teman dekatmu.”

Abu bakar menjawab, “Apa yang dikatakan Muhammad itu benar. Bahkan cerita yang lebih aneh dari itu, aku akan tetap mempercayai dan membenarkannya.”

Orang-orang kafir pun kecewa karena ternyata keyakinan Abu Bakar sangatlah kuat kepada Nabi Muhammad. Mereka pun pergi.

Demikianlah. Kisah Isra’ dan Mi’raj memang benar-benar terjadi. Allah Mahakuasa untuk membawa Nabi Muhammad ke mana saja dengan sangat cepat. Abu Bakar meyakini hal ini. Oleh karenanya, beliau tak ragu sedikitpun terhadap semua yang dikatakan oleh Nabi Muhammad.

Itulah sikap seorang mukmin. Seorang mukmin mempercayai dan mengimani semua yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Nabi Muhammad tak mungkin berdusta. Tak mungkin pula mengelabui umatnya.

Kita juga harus bersikap seperti Abu Bakar. Kita mengimani semua yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Meyakininya dengan sepenuh hati dan melaksanakan perintah serta menjauhi larangannya. Dengan begitu, keimanan kita akan menjadi baik dan semakin sempurna. Karena Allah juga telah menegaskan kisah ini dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Isra’ [17]: 1).