Zibair Bin Awwam Ksatria Pembela Nabi

Zibair Bin Awwam

Siang itu cukup terik. Seorang anak berusia dua belas tahun berjalan di tengah panasnya cuaca. Dengan pedang terhunus di tangannya, ia melangkah mencari seseorang yang dicintainya. Akhirnya ia tersenyum ketika bertemu dengan seorang yang ia cintai dalam keadaan sehat wal afiat. Dialah Rasulullah.

Rasulullah bertanya padanya, “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Zubair menjawab, “Tadi ada berita bahwa anda terbunuh, ya Rasul, dan saya datang hendak menuntut balas.”

Ya, namanya adalah Zubair bin Awwam. Beliau termasuk dalam daftar assabiqunal awwalun, orang-orang yang pertama kali masuk islam. Beliau memeluk Islam di usia yang masih sangat dini. Telah tertanam kuat di hatinya kecintaan kepada Allah dan RasulNya.

Ada pengalaman pahit yang beliau alami ketika itu. Zubair dikurung pamannya di ruangan berasap, karena ketahuan telah memeluk Islam. Nafasnya tersenggal-senggal karena asap telah memenuhi paru-parunya. Namun itu semua tidak memalingkannya dari Islam.

Perang Badar adalah perang pertama yang sangat menentukan nasib kaum muslimin. Zubair bin Awwam berada dalam barisan kaum muslimin untuk membela kehormatan Agama Allah dan Rasul-Nya.

Zubair melakukan perang tanding melawan tentara Quraisy, Ubaidah bin Said. Ubaidah memakai pakaian besi lengkap. Dengan sangat lincah Zubair menghindari serangan Ubaidah. Hingga akhirnya Zubair berhasil menhujamkan pedangnya tepat mengenai kedua mata  Ubaidah, dan mati seketika.

Saat perang Uhud berkecamuk, ada seorang jagoan Quraisy yang begitu kuat.  Dia membunuh banyak kaum muslimin.

Rasulullah lalu menyeru kepada Zubair, “Bangkitlah dan lawan orang itu, wahai Zubair.”

Zubair segera menghampiri orang itu. Keduanya terlibat dalam perkelahian hebat dan saling berguling di tanah. Akhirnya Zubair dapat menguncinya dan membunuhnya.

Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Jaminanmu adalah paman dan bibiku.”

Maksudnya, Rasulullah memberikan penghormatan tertinggi kepada Zubair, karena paman dan bibi Rasul adalah orang yang sangat beliau cintai.

BACA JUGA: IBNU ABBAS, Pencetus Universitas Para Sahabat

Pada perang Khandaq, kota Madinah dalam keadaan terancam. Di tengah malam yang gelap dan mencekam Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk memata-matai musuh. Zubair menjadi orang yang menerima tantangan berbahaya itu, hingga tiga kali berturutturut. Sehingga Nabi bersabda, “Setiap Nabi mempunyai pembela, dan pembelaku adalah Zubair.”

Perang Khaibar adalah peperangan penting melawan kaum yahudi. Zubair pun turut kembali dalam barisan kaum muslimin. Seorang jagoan yahudi dengan congkaknya menantang perang tanding. Ia berkata, “Penduduk Khaibar tahu akulah Yasir. Si ahli pedang yang akan menghancurkan musuh.“

Dengan gagah berani Zubair maju meladeni tantangan itu. Ibunda Zubair yang kala itu turut dalam perang merasa khawatir dan berbisik kepada Nabi, “Ya Rasulullah orang itu akan membunuh anakku.” Kemudian Rasul menimpali, “Bahkan ia akan mati di tangan anakmu.”

Perkelahian hebat dimulai. Pedang kedua ksatria saling berdenting. Kilatannya berkelebat diantara kepala. Zubair melompat dan menyabetkan pedangnya mengenai tengkuk musuh dan tersungkur di atas tanah. Seketika ia mati tak berdaya. Rasulullah memeluknya dan memujinya. Diciumnya kening Zubair sebagai penghormatan.

Adik-adik, itulah sekelumit kisah Zubair bin Awwam. Ksatria hebat pembela Nabi. Semoga kita menjadi mujahid pemberani seperti beliau ya.