Abdullah ibnu Mas’ud Al-Qur`an ada dalam jiwanya

Abdullah ibnu Mas’ud Al-Qur`an ada dalam jiwanya

Abdullah ibnu Mas’ud adalah seorang pemuda miskin. Dia bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abu Muith. Namun, Allah mengangkat derajatnya dengan iman dan memuliakannya dengan Al-Qur`an.

Abdullah bin Mas’ud tergolong orang-orang yang pertama beriman dan menjadi sahabat nabi. Sejak itu, beliau menggunakan waktunya untuk belajar Al-Qur`an langsung dari Rasulullah. Beliau memahami makna setiap ayat dan bagaimana cara membacanya dengan benar. Dan, beliaulah sahabat nabi pertama yang membacakan Al-Qur`an di hadapan orang-orang musyrik Makkah.

Suatu hari, para sahabat Rasulullah berkumpul di Makkah. Mereka berkata, “Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira sanggup melakukannya?

“Aku,” jawab Abdullah.

“Tidak, jangan kamu! Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Sebaiknya seseorang punya kerabat, yang dapat membela dan melindunginya dari penganiayaan kaum Quraisy,” jawab mereka.

“Allah pasti melindungiku,” jawab Abdullah tak gentar.

Keesokan harinya, kira-kira waktu Dhuha, Abdullan ibnu Mas’ud mendatangi Kakbah. Ketika itu, beberapa tokoh Quraisy sedang duduk-duduk di sana. Abdullah bin Mas’ud berdiri lalu dengan suara lantang dan merdu membacakan surah Ar-Rahman.

Bacaan Abdullah yang merdu dan lantang itu terdengar oleh orang-orang Quraisy. Sejenak mereka terkesima dengan ayat-ayat Allah itu, lalu tersadar dan berkata, “Apa yang dibaca oleh anak Ummu Abdin itu (Abdullah ibnu Mas’ud) adalah apa yang dibacakan oleh Muhammad!”

Mereka serentak berdiri dan memukuli Abdullah. Namun Abdullah ibnu Mas’ud meneruskan bacaannya hingga akhir surah. Beliau pun pulang menemui para sahabat dengan muka babak belur dan berdarah.

“Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu,” kata para sahabat.

“Demi Allah,” kata Abdullah, “Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan baca lagi di hadapan mereka.”

Pada waktu yang lain, Abdullah ibnu Mas’ud duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah berkata, “Wahai Ibnu Mas’ud bacakanlah Al-Qur’an untukku.“

Ibnu Mas’ud berkata, “Wahai Rasulullah, aku membacakannya untukmu sedangkan Al-Qur`an diturunkan untukmu?”

Maka Rasulullah berkata, “Sesungguhnya aku ingin mendengarkannya dari lisan orang lain.”

Abdullah bin Mas’ud lalu membacakan surat An-Nisâ’. Ketika sampai pada ayat:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا ٤١ يَوۡمَئِذٖ يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَعَصَوُاْ ٱلرَّسُولَ لَوۡ تُسَوَّىٰ بِهِمُ ٱلۡأَرۡضُ وَلَا يَكۡتُمُونَ ٱللَّهَ حَدِيثٗا ٤٢

“Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engka (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.  Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, berharap sekiranya mereka diratakan dengan tanah,  padahal mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian pun dari Allah.” [QS. An-Nisa: 41-42]

Rasulullah shallallahu alaihi wa salla tidak dapat menahan tangisnya. Air mata menetes dari kedua mata beliau. Rasulullah lalu berkata, “Cukup, berhentilah, wahai Ibnu Mas’ud!”

Itulah kemuliaan Abdullah ibnu Mas’ud yang sangat memahami Al-Qur`an hingga Rasulullah pun memujinya. Rasulullah berwasiat kepada para sahabatnya, “Barangsiapa yang ingin mendengar Al-Qur`an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah mendengarkannya dari Ibnu Ummi Abdin. Barangsiapa ingin membaca Al-Qur`an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah dia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin (Abdullah ibnu Mas’ud).”

 

Baca Juga: Iyas bin Muawiyah Ulama yang Cerdas sejak Kecil