Aisyah Tak Lagi Suka Menunda

cerpen

“Bunda, Ais berangkat dulu!” teriak Aisyah sambil berlari, ia menyambar tasnya di meja belajar.

Aisyah Putri Novitasari, anak perempuan yang baru duduk di kelas 4 Sekolah Dasar itu, memang selalu teburu-buru saat berangkat sekolah. Alasanya sepele, karena ia suka sekali menunda pekerjaan. Akhirnya, ia sendiri yang mejadi terburu-buru.

“Tunggu Ais! Ini bekal makan siang untukmu!” balas Bunda sambil mengejar Aisyah. Ia membawakan bekal makan siang untuknya.

Aisyah yang sudah hampir melewati pintu keluar rumah, memutuskan berhenti. Ia menunggu Bunda datang menghampirinya.

Setelah menerima bekal makan siang dari Bunda, Aisyah pun mencium tangan untuk berpamitan.

***

 

Aisyah memang memiliki kebiasaan yang bisa dibilang buruk. Ia suka menunda pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan. Contohnya, shalat. Kalau belum memasuki waktu akhir shalat, ia masih bermalas-malasan untuk melakukannya. Terlebih, bila ada acara kartun kesukaan di telefisi. Ia akan semakin menunda lagi.

Seperti petang ini, meski sudah memasuki waktu shalat isya. Tapi ia masih duduk bermalas-malasan di sofa sambil menonton acara telefisi.

“Shalat Isya dulu, Ais?” pinta Bunda.

Meski sudah berkali-kali Bunda mengingatkan, tapi Aisyah tak cepat-cepat melaksanakan shalat isya. Alasanya, karena waktu shalat Isya itu panjang. Ia bisa shalat saat menjelang tidur saja.

“Bukankah meyenangkan, bila bisa berdoa berlama-lama. Bisa mendoakan orang yang kita sayangi, bisa berdoa agar cita-cita kita tercapai …” panjang lebar Bunda menyindir Aisyah.

Sayangnya, Aisyah masih tetap tak memperdulikan ucapan Bunda. Tiba-tiba …

Kring … kring … kring …

Terdengar suara telefon rumah yang melengking, membuat Bunda bergegas meraih gagang telefon itu.

“Asalamu’alaikum …” balas Bunda.

Sejenak Bunda berbincang dengan orang di saluran telefon sana. Tiba-tiba saja, wajah Bunda yang awalnya ceria berubah menjadi sedih.

“Inalillahi wa inailaihi raji’un,” gumam Bunda, diikuti air di matanya keluar.

Aisyah yang awalnya diam, kini menjadi penasaran. Ia pun menghampiri Bunda.

“Ada apa, Bunda?” tanya Aisyah.

“Mbah Putri, Ais,” jawab Bunda dengan tersedu.

Melihat jawaban itu, membuat Aisyah tahu. Bila telah terjadi sesuatu dengan Mbah Putri.

Benar saja, ketika mereka sampai ke rumah Mbah Putri. Sudah banyak orang berkumpul di sana. Bendera kuning pun terpasang di halaman rumah.

***

 

Selepas pemakaman Mbah Putri, Aisyah menjadi pendiam. Ia lebih suka mengurung diri di kamarnya.

Bagaimana tidak? Mbah Putri sangat menyayanginya. Apa-apa yang ia inginkan, bila diceritakan kepada Mbak Putri, pasti Mbah Putri akan menurutinya. Tapi sekarang Allah telah memanggil Mbah Putri untuk tinggal di sisiNya.

Tak selang beberapa lama, pintu kamarnya terbuka. Bunda pun masuk ke dalam kamar Aisyah.

“Sudah masuk shalat Isya, Nak. Ayo, kita shalat dulu,” ajak Bunda.

Sayangnya Aisyah tak menjawab. Ia masih termenung sedih.

“Jangan bersedih, Aisyah. Lebih baik, kita doakan Mbah Putri saja. Agar mendapat tempat terindah di sisi Allah,” bujuk Bunda.

Melihat Aisyah masih bersedih, Bunda pun memutuskan meninggalkan Aisyah sendiri di kamar. Kini, Aisyah termenung.

“Benar juga kata Bunda. Tidak ada gunanya aku terus bersedih, tidak akan membuat Mbah Putri kembali hidup. Lebih baik, sekarang aku shalat isya dan mendoakan Mbah Putri dan orang-orang yang aku sayang. Agar mereka baik-baik saja,” pikir Aisyah.

Aisyah hendak turun dari tempat tidurnya, tapi ia kembali berpikir.

“Ah, nanti saja lah. Masih sore, masih banyak waktu untuk shalat isya,” ujar Aisyah.

Tiba-tiba, seseorang megetuk pintu rumahnya. Terdengar, seorang yang megetuk pintu itu sangat panik. Meminta segera dibukakan pintu.

Aisyah yang penasaran pun bergegas turun dari tempat tidur, ia menghampiri tamu yang mengetuk pintu rumahnya.

Astaghfirulloh, betapa terkejutnya Aisyah. Ketika melihat Ujang, tetangganya datang dengan membawa Pussi. Kucing kesayangannya.

“Aisyah, tadi Pussi tertabrak mobil,” terang Ujang.

Aisyah pun sangat sedih. Ia berlari menghampiri Pussi sambil menangis.

Di dalam hatinya, ia sungguh menyesal. Bila ia tadi tidak menunda shalat isyanya dan merawat Pussi dengan baik, tidak membiarkan kucing kesayangannya pergi keluar saat malam tiba. Mungkin Pussi tidak akan tertabrak mobil.

Sejak saat itu, Aisyah pun memutuskan tidak akan menunda-nunda apa pun lagi.

***

 

Oleh: Nurlina Zazi