Dinar dan Dirham, Uang yang Sebenarnya

Dinar dan Dirham

Dahulu, jual beli dilakukan dengan tukar menukar barang yang sama nilainya. Kemudian berkembang dengan cara menukar barang dengan emas atau perak. Dibuatlah uang koin emas dan perak, yang kemudian dikenal dengan dinar dan dirham.

Uang koin emas sudah digunakan orang-orang Arab sejak jaman jahiliyah. Pada masa itu orangorang Arab sudah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Romawi, Persia, dan Yaman. Namun, mereka tidak punya mata uang sendiri.

 

Baca Juga: Mirip Masjid Tapi Bukan Masjid

 

Orang-orang Arab menggunakan uang emas dan perak dari negeri tetangga, Romawi dan Persia. Kebiasaan ini masih terjadi hingga Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul.

Kaum muslimin pada masa itu masih menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia. Lalu, Rasululllah shallallahu alaihi wassallam menetapkan besaran dinar dan dirham. Satu dinar ditetapkan sama dengan satu mitsqal, yaitu setara berat 72 butir gandum. Dan setiap 10 dirham itu sama dengan 7 mitsqal.

Umat Islam baru memiliki sendiri koin emas pada tahun 682 M. ketika gubernur Iraq Mush’ab bin Zubair mencetak dinar.

Dua tahun kemudian, Khalifah Abdul Malik ibn Marwan dari Bani Umayyah di Damaskus mencetak dinar dengan berat 4,4 gram, sesuai berat 1 mitsqal (72 butir gandum).

Sejak itulah, pembuatan dinar dan dirham dilanjutkan oleh kekhalifahan yang berkuasa, yaitu Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Bani Utsmaniyah. Koin dinar dan dirham masih berlaku hingga kekhalifahan Bani Utsmaniyah dan diakui di seluruh dunia.

Sayangnya, kini uang dinar dan dirham sudah digantikan uang kertas. Padahal, dinar dan dirham adalah uang yang sebenarnya, karena benar-benar memiliki nilai yang sesuai dengan berat uangnya. Satu dinar setara 4,25 gram emas, dan satu dirham 3,11 gram perak murni.