Dokter Kecil

dokter kecil

Syifa memandang kertas ulangan Bahasa Inggris yang baru saja dibagikan dengan wajah datar. Nilai 75 sudah biasa ia dapatkan. Syifa melirik nilai Dinda yang kertasnya terserak di meja, 95. Hampir sempurna, mapel apa yang tidak dikuasai Dinda? Hampir tidak ada.

Teman-temannya saling memperlihatkan hasil ulangan mereka. Syifa diam-diam memasukkan kertas miliknya. Ia sudah berusaha belajar semampu yang ia bisa, tapi kenapa lagi-lagi hasilnya tak bisa lebih dari 75? Ia bawa rasa kecewanya hingga di rumah.

“Bu, ini nilai ulangan Bahasa Inggris kemarin, Ibu nggak marah ‘kan?” tanya Syifa gundah.

“Mengapa marah?” ibu balik bertanya.

“Nilai Syifa selalu jelek Bu,” keluh Syifa.

“Jelek pada nilai mapel bukan berati jelek segalanya ‘kan? Allah memberikan kekurangan dan kelebihan pada tiaptiap manusia.” Ucapan ibu menghapus kegelisahan Syifa.

“Kamu sudah berusaha, syukurilah hasilnya.” Ibu selalu bisa membesarkan hati.

Syifa kembali bersemangat esok paginya.

Pagi ini ibu guru Lili membawa pengumuman penting.

“Anak-anak, sebelum mulai pelajaran, Bu Lili mau mengumumkan hal penting.

” Anak-anak mendengarkan penuh antusias.

“Ada undangan dari Puskesmas untuk 3 anak untuk mengikuti kegiatan pelatihan dokter kecil. Nah, ibu akan menunjuk 3 anak di kelas ini yang akan mewakili sekolah. Nantinya mereka akan menjadi dokter kecil di sekolah kita,” ujar Bu Lili.

Anak-anak mulai saling pandang, siapa saja yang akan dipilih? “Ibu menunjuk…. “ Bu Lili memandang anak-anak satu persatu.

Pandangan anak-anak mengarah kepada Dinda. Pasti Dinda si bintang kelas yang akan ditunjuk, juga Hana dan Najma. Hampir semua anak di kelas memiliki tebakan yang sama. Mereka bintang kelas yang tak tersaingi.

“Dina, Syifa, dan Asma,” lanjut Bu Lili.

Semua terperangah, termasuk Dina, Syifa, dan Asma yang tak menyangka akan ditunjuk. Tiga nama yang tak pernah diperhitungkan oleh temanteman karena nilai rapor mereka yang biasa.

“Kenapa saya yang ditunjuk, Bu?” cetus Syifa ingin tahu. Apa pertimbangan bu guru memilihnya, sungguh Syifa penasaran. Teman-teman pun menyimpan pertanyaan sama.

“Karena bu guru selalu menilai semua siswa di kelas. Bu guru tidak hanya menilai prestasi dari segi akademik saja, namun dari segala perilaku keseharian,” jelas Bu Lili.

“Untuk menjadi dokter kecil di sekolah, dibutuhkan siswa yang tidak hanya pandai, namun yang penting adalah yang selalu peduli, cekatan, dan penuh perhatian. Bu guru selalu memperhatikan tiga siswa tersebut sangat peduli terhadap teman, tangkas, juga sangat memperhatikan adik kelas.”

“Iya bu, Syifa banyak disukai adikadik kelas karena sangat perhatian dan ngemong,” ujar Hana. Teman-teman yang lain juga mengangguk setuju dan maklum dengan pilihan Bu Lili. “Ya, besok kalian akan mendapatkan bekal ilmu yang akan berguna di sekolah untuk membantu petugas UKS,” Bu Lili mengakhiri penjelasan mengenai dokter kecil.

Benar kata bu Lili, selama tiga hari pelatihan, banyak ilmu yang didapatkan Syifa dan dua temannya. Tak terasa, tiga hari berlalu. Selain bekal ilmu, ternyata mereka berdua mendapatkan sebuah sertifikat keikutsertaan sebagai peserta pelatihan.

Usai pembagian sertifikat, Syifa tak sabar ingin memperlihatkan kepada ibunya.

“Lihat Bu, apa yang Syifa bawa!” seru Syifa sampai di rumah.

Ibu memperhatikan. “Wah, subhanallah, kamu hebat!”

“Alhamdulillah. Tiga hari Syifa ikut pelatihan dan sengaja nggak cerita ke ibu dulu,” kata Syifa.

“Inilah bukti, Allah memberi kekurangan dan kelebihan, Nak. Kamu diberi banyak kelebihan yang harus kamu syukuri,” ucap ibu bangga.

“Ibu benar, Syifa ingin bisa mengamalkan ilmu yang telah Syifa dapatkan. Ibu pernah cerita, tentang AsSyifa binti Abdullah, sahabat nabi yang ahli kesehatan dan kedokteran. Syifa ingin menjadi seperti itu Bu, menjadi dokter yang bermanfaat untuk sesama,” kata Syifa berbinar-binar.

“Bagus, kalau kamu berusaha, Allah pasti mengabulkan, Man Jadda Wa Jadda.” Ibu mengacungkan jempolnya.

Semangat Syifa kian menyala.

 

Oleh: Sayekti Ardiyani

 

Baca Juga: Tali Persahabatan