Dua Nabi Membangun Kakbah

Nabi Membangun Kakbah

Bunda Hajar tinggal bersama sang putra, Ismail, di lembah Makkah. Mereka berdua mendapatkan rizki dari Allah, yaitu mata air zamzam. Sedangkan sang ayah, Nabi Ibrahim, sudah kembali negerinya di Palestina.

Mata air zamzam menjadi berkah bagi mereka berdua. Para musafir dan pedagang yang melewati Makkah dapat mengambil bekal air. Sebagai tanda terima kasih, para musafir memberikan makanan bagi bunda Hajar dan Ismail.

Sebagian musafir lalu tinggal di Makkah. Ismail tumbuh besar bersama mereka. Belajar bahasa dan pengetahuan dari mereka. Hingga makin lama, Makkah makin ramai dan banyak penduduknya. Ismail yang sudah tumbuh dewasa  pun menikah dengan putri dari salah satu penduduk Makkah.

Suatu ketika, Nabi Ibrahim datang mengunjungi Ismail. Saat itu, bunda Hajar sudah meninggal dunia.

Nabi Ibrahim melihat Ismail sedang meruncingkan anak panahnya di bawah kemah dekat zamzam. Nabi Ibrahim pun menghampiri Ismail. Keduanya sangat gembira, karena dapat dipertemukan lagi setelah terpisah dalam waktu yang lama.

Lalu, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Ismail, Allah memerintahkanku dengan suatu perintah.”

Ismail berkata, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah, wahai ayah.”

Ismail selalu siap menjalankan perintah Allah dan ayahnya. Seperti ketika Ismail menurut saat ayahnya diperintah Allah untuk menyembelihnya.

Nabi Ibrahim berkata lagi, “Apakah kamu akan membantuku?”

Ismail berkata, “Ya, aku akan membantumu, ayah.”

Nabi Ibrahim berkata, “Allah memerintahkan aku agar membangun rumah (Baitullah) di tempat ini.”

Nabi Ibrahim menunjuk ke suatu tempat yang agak tinggi. Di tempat itulah, keduanya meninggikan pondasi Baitullah.

Ismail mengangkut batu untuk ayahnya. Nabi Ibrahim menyusun batu-batu tersebut hingga terbentuk sebuah bangunan Kakbah.

Sambil bekerja, keduanya membaca doa, “Wahai Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 127).

Setelah berhari-hari menyusun batu, selesailah pembangunan Kakbah. Nabi Ibrahim dan Ismail pun mengucap syukur dan berdoa, “Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127128)

Inilah awal mula pembangunan Kakbah. Lalu Allah mengangkat Ismail menjadi rasul. Nabi Ismail diutus kepada kaum yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Nabi Ismail inilah nenek moyang dari bangsa Arab.

Penduduk Makkah sangat menyayangi Kakbah. Mereka berupaya menjaganya agar tidak rusak. Hingga kini, Kakbah masih berdiri kokoh di kota Makkah. Jutaan umat muslim mengunjunginya setiap tahun, untuk melaksanakan ibadah umroh dan haji.

 

 Baca Juga: Bunda Hajar dan Bayi Ismail