Iyas bin Muawiyah Ulama yang Cerdas sejak Kecil

Iyas bin Muawiyah

Iyas bin Mu’awiyah dikenal sebagai anak yang cerdas. Masa kecilnya dihabiskan di Bashrah. Dari sanalah, Iyas mulai belajar dan menimba ilmu.

Iyas kecil pernah belajar di sebuah sekolah yang diasuh oleh seorang guru Yahudi. Suatu hari, guru Yahudi itu berkumpul bersama muridmuridnya dari kalangan Yahudi. Mereka berbincang tentang keadaan umat Islam. Tanpa mereka sadari, Iyas turut mendengarkannya.

Guru Yahudi itu berkata kepada teman-teman Iyas, “Tidakkah kalian heran dengan kaum muslimin itu? Mereka berkata bahwa mereka akan makan di surga, namun tidak akan buang air besar?”

Murid-muridnya mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba Iyas menoleh kepadanya lalu berkata, “Bolehkah aku ikut bertanya padamu, wahai guru?”

“Silakan!” jawab si guru Yahudi itu.

Iyas bertanya, “Kita makan setiap hari. Apakah semua makanan yang kita makan keluar menjadi kotoran?”

Si guru menjawab; “Tidak!”

Iyas bertanya lagi, “Lantas kemana makanan yang tidak keluar itu?”

Si guru menjawab, “Ada yang terserap oleh tubuh dan menjadi tenaga,”

Iyas lalu berkata, “Jika makanan kita di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tidak mustahil di surga kelak seluruh makanan akan diserap tubuh, tanpa ada sisanya.”

Si guru Yahudi pun terdiam menahan kemarahannya. Dia tidak bisa menjawab pendapat Iyas. Lalu berkata, “Semoga Allah mematikanmu sebelum dewasa.”

Namun, doa guru yahudi itu tidak terkabul. Iyas bin Muawiyah tumbuh dewasa. Dia semakin bersemangat belajar dan menuntut ilmu. Hingga Iyas sudah menjadi guru dan ulama ketika usianya masih muda. Banyak muridnya yang berusia lebih tua.

Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik bin Marwan mengunjungi Bashrah. Dia melihat Iyas yang masih remaja menjadi imam. Di belakangnya ada empat orang qurra’ (penghafal Al-Qur`an) yang usianya jauh lebih tua.

Maka Abdul Malik berkata, “Celakalah mereka, tak ada lagikah orang tua yang bisa memimpin, sampai anak sekecil ini dijadikan pemimpin mereka?”

Lalu Abdul Malik menoleh kepada Iyas dan bertanya, “Berapa usiamu wahai anak muda?”

Iyas menjawab, “Usiaku sama dengan usia Usamah bin Zaid saat diangkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar, wahai amir.”

Abdul Malik berkata, “Kemarilah wahai anak muda, semoga Allah memberkatimu.”

Itulah Iyas bin Muawiyyah, anak muda yang cerdas. Tak hanya cerdas, Iyas juga bersungguhsungguh dalam belajar dan menuntut ilmu.

 

Baca Juga: Abdullah bin Hudzafah Melawan dua Penguasa Dunia