Tali Persahabatan

tentang persahabatan

Hari ini, Hasna sangat kesal. Tas baru kesayangannya rusak. Tas merah, bergambar kelinci. Talinya putus. Padahal baru hari ini dipakai ke sekolah.

Hasna menuduh Rara penyebabnya. Rara, teman sebangku Hasna di kelas enam itu, dianggap bersalah karena menariknya terlalu keras saat berusaha menggandeng Hasna.

“Rara, kenapa kamu putusin tali tasku?” bentak Hasna.

“Maaf, Hasna, aku nggak sengaja,” jawab Rara.

“Ini kan tas baru. Jadi rusak, kan!” kata Hasna, kesal. Dia pun berlari menuju ruang kelasnya, meninggalkan Rara yang terdiam.

Di dalam kelas, Hasna menangis terisak. Dia sangat kecewa karena tas barunya rusak. Rara menghampirinya. “Maafkan aku, Hasna,” ucap Rara, mencoba meminta maaf, namun tak dihiraukan oleh Hasna.

Rupanya Hasna benar-benar marah pada Rara. Rara pun memilih duduk di bangku belakang, tidak berdekatan dengan Hasna. Dan hari itu, keduanya tak bertegur sapa sampai pulang sekolah.

Kekesalan Hasna terbawa sampai rumah. Hasna yang biasanya riang Tali Persahabatan 41majalah adzkia edisi 72 41majalah adzkia edisi 123 41majalah adzkia edisi 139 bermain, sore itu terlihat cemberut. Mama penasaran. Mama mendekati Hasna yang sedang duduk di ruang tengah.

“Kamu kok cemberut gitu, Hasna. Kenapa?” tanya mama.

“Hasna lagi sebel sama Rara, Ma,” jawab Hasna.

“Rara teman kamu yang sering belajar bareng kamu itu? Kok bisa marahan?” tanya mama lagi.

“Habis, gara-gara Rara, tas baru Hasna putus talinya,” jawab Hasna, masih dengan muka cemberutnya.

“Oh, cuma tas rusak kok sampai marahan. Lagipula, mungkin saja Rara tak sengaja melakukannya,” kata mama.

“Tapi itu tas baru kesayangan Hasna, ma…!” kata Hasna, bertambah kesal.

Mama mengusap kepala Hasna.

“Hasna, Rara itu teman baikmu, kan? Coba kamu ingat, pernahkah dia berbuat jahat ke Hasna?” tanya mama.

“Nggak pernah sih, Ma. Selama ini, dia kan selalu baik pada Hasna,” jawab Hasna.

“Nah, coba Hasna bandingkan, kebaikan Rara dengan kesalahan Rara yang cuma satu kali ini,” kata mama mencoba menyadarkan Hasna.

“Iya, ma. Hasna merasa bersalah sama Rara. Sebenarnya tadi siang Hasna cuma kesal, tas baru Hasna rusak. Jadi Rara yang dijadikan sasarannya,

” Hasna pun mengakui kekeliruannya.

“Jadi, kamu masih mau bermusuhan dengan Rara?” tanya mama.

“Nggak lah, ma. Insyaallah, besok Hasna akan meminta maaf pada Rara.

Soal tas yang baru yang rusak, kan masih bisa diperbaiki. Tas lama Hasna masih bisa dipakai kok,” jawab Hasna, kali ini wajahnya sudah tidak cemberut lagi.

“Alhamdulillah, kamu memang anak mama yang hebat. Meminta maaf atas kesalahan itu hebat, lho,” kata mama, bahagia melihat putrinya menyadari kekeliruannya.

Hasna tersenyum simpul, mendapat pujian dari mama tersayang.

***

Keesokan harinya di sekolah. Hasna sengaja menunggu Rara di dekat pintu kelas. Begitu melihat kedatangan Rara, Hasna memasang muka galak.

“Rara, sini…” panggil Hasna, dengan suara keras.

“Eh, Hasna. Kamu masih marah sama aku, ya” tanya Rara, sedikit ketakutan

Wajah takut Rara membuat Hasna tak bisa menahan senyum. Dia pun memeluk Rara, sambil berkata, “Aku nggak marah, kok. Maafin aku, ya, kemarin sudah menyalahkanmu.”

“Iiih, Hasna. Iya, nggak apa-apa, memang aku yang salah, kok. Maafin aku juga, ya,” kata Rara.

“Iya…iya…! Tali tas boleh putus, tapi persahabatan kita nggak boleh ikut putus, kan?” kata Hasna.

Keduanya saling meminta maaf. Mereka segera masuk kelas dan duduk bersebelahan lagi. Satu pelajaran bagi mereka, kesalahan kecil tidak boleh merusak persahabatan yang telah terjalin kuat.

 

Baca Juga: Tak Perlu Berkacamata